Di banyak desa, ada pola yang begitu biasa sampai tidak lagi dianggap sebagai keadaan khusus. Orang tua bekerja di kota besar atau di luar negeri, anak tinggal bersama nenek, paman, atau kerabat lain. slot gacor Uang kiriman datang teratur, kebutuhan sekolah terpenuhi, rumah bahkan mungkin diperbaiki. Dari sisi ekonomi, keputusan itu berhasil. Dari sisi pendidikan anak, hasilnya jauh lebih beragam dan sering bergerak ke arah yang tidak diperhitungkan sejak awal.
Dukungan Ekonomi yang Nyata
Perlu disebut lebih dulu bahwa dampak positifnya bukan hal kecil. Kiriman uang dari orang tua yang merantau membuat banyak anak bisa melanjutkan sekolah yang sebelumnya tidak terjangkau.
Biaya seragam, buku, ongkos, dan kebutuhan harian terpenuhi. Sebagian keluarga bisa menyekolahkan anak sampai jenjang yang tidak pernah dicapai generasi sebelumnya. Kalau ukurannya hanya kemampuan membiayai sekolah, keputusan merantau sering merupakan keputusan yang tepat.
Persoalannya adalah bahwa membiayai sekolah dan mendampingi anak bersekolah bukan hal yang sama.
Yang Hilang dari Pengasuhan Jarak Jauh
Ada beberapa bagian pendampingan yang sulit dijalankan dari jarak jauh meski komunikasi berjalan setiap hari.
Yang pertama adalah pemantauan harian yang tidak terjadwal. Orang tua yang tinggal serumah menangkap perubahan kecil, misalnya anak yang tiba-tiba tidak mau berangkat, atau yang pulang lebih larut dari biasanya. Pengasuh pengganti yang sudah lanjut usia sering tidak punya tenaga untuk memantau sedetail itu, dan percakapan lewat telepon cenderung berisi laporan yang aman.
Yang kedua adalah kewenangan. Nenek atau kerabat yang mengasuh sering merasa tidak berhak melarang secara tegas karena bukan orang tua kandung. Ketika anak memasuki usia remaja, ketimpangan kewenangan ini menjadi lebih terasa.
Yang ketiga adalah keterlibatan dengan sekolah. Undangan pertemuan orang tua sering tidak terpenuhi karena pengasuh merasa bukan tempatnya, sehingga informasi tentang perkembangan anak tidak sampai ke siapa pun yang bisa menindaklanjuti.
Uang sebagai Pengganti Kehadiran
Ada pola yang sering muncul dan cukup dipahami sebabnya. Orang tua yang jauh dan merasa bersalah cenderung mengirim lebih banyak uang atau barang sebagai bentuk perhatian.
Bagi anak, hubungan itu perlahan bergeser bentuknya. Percakapan dengan orang tua berisi kebutuhan dan permintaan, bukan cerita sehari-hari. Ketika ada masalah di sekolah atau dengan teman, anak jarang menyampaikannya karena merasa itu bukan hal yang pantas dibicarakan lewat telepon jarak jauh yang mahal dan singkat.
Anak remaja dengan uang saku besar dan pengawasan longgar juga menghadapi risiko yang berbeda dari teman sebayanya, dan risiko itu tidak selalu terlihat sampai sudah berjalan cukup jauh.
Perbedaan Menurut Siapa yang Pergi
Penelitian tentang keluarga yang ditinggal merantau umumnya menemukan bahwa dampaknya berbeda tergantung siapa yang berangkat.
Ketika ayah yang merantau dan ibu tetap di rumah, gangguan pada pengasuhan sehari-hari relatif kecil meski ada beban tambahan pada ibu. Ketika ibu yang merantau, perubahannya biasanya lebih terasa pada anak usia sekolah dasar, terutama karena pembagian peran pengasuhan sebelumnya.
Ketika keduanya pergi, anak sepenuhnya bergantung pada pengasuh pengganti, dan hasilnya sangat ditentukan oleh siapa pengasuh itu dan berapa banyak anak lain yang juga diasuhnya.
Apa yang Bisa Dilakukan Sekolah
Sekolah biasanya tahu siapa saja siswa yang orang tuanya merantau, tapi informasi itu jarang dipakai untuk apa pun.
Beberapa hal sederhana bisa mengurangi jarak. Menyediakan cara agar guru bisa menghubungi orang tua yang jauh secara langsung, bukan hanya lewat pengasuh, membuat informasi penting sampai ke pihak yang punya kewenangan. Mencatat siswa dalam kelompok ini dan memberi perhatian lebih pada perubahan perilakunya juga membantu menangkap masalah lebih awal.
Penutup
Merantau adalah keputusan yang diambil sebagian besar keluarga bukan karena pilihan melainkan karena tidak ada pekerjaan yang memadai di dekat rumah, dan menilai keputusan itu sebagai pengabaian jelas keliru. Yang perlu dilihat adalah bahwa pemenuhan biaya sekolah menutupi satu jenis kebutuhan sementara membiarkan jenis lain terbuka, dan jenis yang terbuka itu tidak muncul di catatan mana pun sampai muncul dalam bentuk nilai yang turun atau anak yang berhenti bersekolah. Selama pola ini terus berjalan di banyak daerah, mengenali keberadaannya sebagai kondisi yang butuh perhatian khusus lebih berguna daripada memperlakukannya sebagai urusan keluarga masing-masing.

